“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu.”

Selasa, 13 Juli 2010

Ikhlas

RINCIAN BAHASAN
   Secara bahasa ikhlas berasal dari kata khalasha yang berarti bersih/murni. Sedangkan niat berarti al-qoshdu artinya, maksud atau tujuan. Ikhlassunniyah berarti membersihkan maksud dan motivasi kepada Allah dari maksud dan niat lain. Hanya mengkhususkan Allah azza wajalla sebagai tujuan dalam berbuat. Allah telah memerintahkan kita untuk ikhlas dalam beramal dan beribadah kepadanya seperti yang tercantum dalam QS.98:5; 7:29; 18:110.

Pentingnya Ikhlassunniyah
1.Merupakan ruhnya amal karena seperti badan yang tidak ada ruhnya, maka tanpa ikhlas amal; sebagus apapun tidak ada artinya.  
2.Salah satu syarat diterimanya amal. "Allah azza wajalla tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas dalam mencari keridhoannya semata" (HR. Abu Daud dan Nasai)  
3.Syarat diterimanya amal atau perbuatan:  
·Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya  
·Ikhlas dalam berniat  
·Sesuai dengan syariat Islam(al-Qur'an dan Sunnah)  
4.Penentu nilai/kualitas suatu amal (QS.4:125),"Sesungguhnya segala amal perbuatan tergantung pada niat, dan bahwasanya bagi tiap-tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrah menuju ridho Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah kepada dunia (harta atau kemegahan dunia) atau karena seorang wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujunya."(HR.Bukhari- Muslim)  
5.Mendatangkan berkah dan pahala dari Allah (QS.2:262; 4:145-146).  

Cara-cara untuk menumbuhkan niat yang ikhlas
1.Mengetahui arti keikhlasan dan urgensinya dalam beramal  
2.Menambah pengetahuan tentang Allah swt dan hari kiamat. Dengan mengetahui ilmu tentang-Nya, maka seseoang mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya tentulah tidak akan berani berbuat syirik (menyekutukan Allah dengan selain-Nya di dalam niatnya). Ia juga akan mempertimbangkan amal-amalnya dan balasannya nanti di akhirat.  
3.Memperbanyak membaca/berinteraksi dengan al-Qur'an, karena al-Quran adalah penyembuh dari segala penyakit dalam dada (QS.10:57) termasuk penyakit riya, ujub, dan sum'ah.  
4.Memperbanyak amal-amal rahasia, sehingga kita terbiasa untuk beramal karena Allah semata tanpa diketahui orang lain.  
5.Menghindari / mengurangi saling memuji, karena dengan pujian terkadang orang jadi lalai hatinya dan menjadi sombong.  
6.Berdoa, dengan tujuan agar selalu diberi keikhlasan dan dijauhi dari syirik. Doa yang dicontohkan oleh Rasulullah saw : "Allahumma innii a'udzubika annusyrikabika syaian a'lamuhu wa astaghfiruka lima laa a'lamuhu." (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari syirik kepada-Mu dalam perbuatan yang aku lakukan dan aku memohon ampun kepada-Mu terhadap apa yang tidak aku ketahui.)  

Tawazun

RINCIAN BAHASAN
   Tawazun artinya seimbang. Allah telah mengisyaratkan agar kita hidup seimbang, sebagaimana Allah telah menjadikan alam beserta isinya berada dalam sebuah keseimbangan. (QS.67:3)
   Manusia dan agama Islam kedua-duanya merupakan ciptaan Allah yang sesuai dengan fitrah yang telah Allah tetapkan. Mustahil Allah menciptakan agama Islam untuk manusia yang tidak sesuai dengan fitrah tersebut (QS.30:30). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa manusia itu diciptakan sesuai dengan fitrah Allah yaitu memilki naluri beragama (agama tauhid : al-Islam) dan Allah menghendaki manusia untuk tetap dalam fitrah itu. Kalau ada manusia yang tidak beragama tauhid, itu hanyalah karena pengaruh lingkungan (Hadits,"Tiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (Islam) orangtuanyalah yang menjadikan ia sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi.").
   Sesuai dengan fitrah Allah,manusia memiliki tiga potensi, yaitu al-jasad (jasmani), al-aql (akal), dan ar-ruh (ruhani). Islam menghendaki ketiga dimensi tersebut berada dalam keadaan tawazun (seimbang). Perintah untuk menegakkan neraca keseimbangan ini dapat dilihat pada QS.55:7-9.

   Ketiga potensi ini membutuhkan makanannya masing-masing, yaitu sbb :

1. Jasmani
   Jasmani atau fisik adalah amanah dari Allah swt,karena itu harus kita jaga . Dalam sebuah hadits dikatakan ,"Mu'min yang kuat itu lebih baik atau disukai Allah daripada mu'min yang lemah."(HR.Muslim), maka jasmani pun harus dipenuhi kebutuhannya agar menjadi kuat. Kebutuhannya adalah makanan, yaitu makanan yang halalan thoyyiban (halal dan baik) (QS.80:24,2:168), beristirahat (QS.78:9), kebutuhan biologis (QS.30:20-21) dan hal-hal lain yang menjadikan jasmani kuat.

2. Akal
   Yang membedakan manusia dengan hewan adalah akal. Akal pulalah yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk-makhluk lainnya. Dengan akal manusia mampu mengenali hakikat sesuatu, mencegahnya dari kejahatan dan perbuatan jelek. Membantunya dalam memanfaatkan kekayaan alam yang oleh Allah diperuntukkan baginya supaya manusia dapat melaksanakan tugasnya sebagai khalifatullah fil-ardhi (wakil Allah di atas bumi) (QS.2:30;33:72). Kebutuhan akal adalah ilmu (QS.3:190) untuk pemenuhan sarana kehidupannya.

3. Ruh (hati)   
   Kebutuhannya adalah dzikrullah (QS.13:28;62:9-10). Pemenuhan kebutuhan ruhani sangat penting, agar ruh/jiwa tetap memiliki semangat hidup, tanpa pemenuhan kebutuhan tersebut jiwa akan mati dan tidak sanggup mengemban amanah besar yang dilimpahkan kepadanya.

   Dengan keseimbangan, manusia dapat meraih kebahagiaan hakiki yang merupakan ni'mat Allah, karena pelaksanaan syariah sesuai dengan fitrahnya. Untuk skala ketawazunan akan menempatkan umat Islam menjadi umat pertengahan / ummatan wasathon (QS.2:143), yaitu umat yang seimbang.

Kebahagiaan pada diri manusia itu dapat berupa:
· Kebahagiaan bathin/jiwa, dalam bentuk ketenangan jiwa (QS.13:28)  
· Kebahagiaan dzahir/gerak, dalam bentuk kesetabilan, ketenangan ibadah, bekerja dan aktivitas lainnya.  
   
Dengan menyeimbangkan dirinya, maka manusia tersebut tergolong sebagai hamba yang pandai mensyukuri ni'mat Allah. Hamba/manusia seperti inilah yang disebut manusia seutuhnya.

Contoh-contoh manusia yang tidak tawazun
· Manusia Atheis: tidak mengakui Allah, hanya bersandar pada akal (rasio sebagai dasar).  
· Manusia Materialis: mementingkan masalah jasmani/materi saja.  
· Manusia Pantheis (kebatinan): bersandar pada hati/batinnya saja.  

Senin, 12 Juli 2010

Surat Untuk Ikhwan

Wahai ikhwan……
Dengarkanlah pula sejenak pesan kami barisan akhwat
untuk kalian..

Wahai ikhwan…………
Sungguh kami itu senang jika diperhatikan,
apalagi jika kalian adalah ikhwan yang dewasa,
atau ikhwan yang alim, atau ikhwan yang cool, atau ikhwan yang cerdas
padahal kami belum mampu berhijab secara baik,
karena itu tundukkanlah pandangan kalian dengan makna yang sebenarnya,
dan janganlah kalian ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya.

Jangan pernah kautatap kami penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk melihat kami.
Bukan, bukan karena kami terlalu indah,
tapi karena kami seorang yang masih kotor.
kami biasa memakai topeng keindahan pada wajah buruk kami,
mengenakan pakaian sutra emas yang akan bisa memalingkan diri kalian.

Wahai Akhi,
berhati-hatilah ketika kalian menyapa kami dengan chating didunia maya,
diskusi dengan hal-hal yang tidak perlu,
katanya dakwah di dunia maya, tetapi yang diobrolkan jauh dari nilai esensi dakwah


Duhai Akhi……
Kami juga inginnya terus dekat dengan kalian para ikhwan,
tapi maaf…bukan karena apa-apa tapi lebih karena perhatian yang kalian berikan kepada kami,
meskipun sesungguhnya kami sangat malu akan hal ini,
terkadang kami pun terlepas kata dan tingkah laku,
yang malah menjadikan kami dan kalian semakin tak mengenal batas,
karena itu pertama nasihatilah kami akan azab Allah dan setelahnya jangan pernah memberi dan membalas bentuk perhatian kami

Akhi....
Wanita adalah makhluk yang sempit akal dan mudah terbawa emosi.
Terlepas bahwa aku tidak suka pernyataan tersebut, tapi itu fakta.
Sangat mudah membuat wanita bermimpi.

Akhi,
Tolong, berhentilah memberi angan-angan kepada kami.
Mungkin kami akan melengos kalau disapa.
Atau membuang muka kalau dipuji.
Tetapi, jujur saja, ada perasaan bangga.
Bukan kami suka pada antum (mungkin)..
Tapi suka karena diperhatikan “lebih”.

Diantara kami, ada golongan Maryam yang pandai menjaga diri.
Tetapi tidak semua kami mempunyai hati suci.
Jangan antum tawarkan sebuah ikatan bernama ta’aruf bila antum benar-benar belum siap akan konsekuensinya.
Sebuah ikatan ilegal yang bisa jadi berumur tak cuma dalam hitungan bulan
tetapi menginjak usia tahun, tanpa kepastian kapan akan dilegalkan.

Duhai akhi,
Tolong, kami hanya ingin menjaga diri.
Menjaga amal kami tetap tertuju padaNYA.Karena janji Allah itu pasti.
Wanita baik hanya diperuntukkan laki-laki baik.

Jangan ajak mata kami berzina dengan memandangmu,
jangan ajak telinga kami berzina dengan mendengar pujianmu,
jangan ajak tangan kami berzina dengan menerima hadiah kasih sayangmu
jangan ajak kaki kami berzina dengan mendatangimu,
jangan ajak hati kami berzina dengan berkhalwat denganmu

Wahai akhi,
kalian Sebagai saudara kami,
tolong, jaga kami.
Karena kami akan kuat menolak rayuan preman,
Tapi bisa jadi kami lemah dengan surat cinta kalian.
Bukankah akan lebih indah bila kita bertemu dengan jalan yang diberkahiNYA?
Bukankah lebih membahagiakan bila kita dipertemukan dalam kondisi diridhoiNYA?

Karenanya saudaraku…
Janganlah kita berbuka sebelum waktunya
Memanen sebelum masanya
Bersabarlah, tunggulah hingga saatnya tiba

Allahu a’lam bish shawwab…

~Peringatan buat sahabat2 dan jua pada diri ini yg sentiasa khilaf padaNya,
Akhir kata aku memohon Ampun kepada Allah..
Robb yang Maha Penyayang dan Maha Pemberi Petunjuk~

Mengapa Dakwah Sekolah?

Ada banyak segmen dakwah yang dapat digarap. Sebab manusia yang notabene sebagai objek Dakwah tersebar di segala lini. Kita dapat berdakwah di lingkungan Rumah, juga di lingkungan kerja. Atau sering kita mendenger dakwah kampus dan dakwah sekolah. Dua tempat terakhir adalah segmen paling unik dan penuh idealisme pemudanya.

Dakwah kampus tidak bisa dilepaskan dengan dakwah sekolah. Banyak kampus pada hari ini mengalami penurunan kader Dakwah dan kesulitan mencari penerus disebabkan mandetnya dakwah di sekolah, Dakwah putih-Abu-abu.

Banyak aktifis dakwah kampus yang sudah enggan kembali menggarap sekolah. Dengan berbagai alasan tentunya. Alasan dari sudah malu jika kembali ke sekolah hingga karier yang lebih mumpuni jika di kampus pernah jejak dapati. Ya karier. Di kampus para aktifis dakwahnya memang strategis dalam menempatkan eksistensi diri mereka. Tarikan kekuasaan, nama besar dan kebanggaan akan didapati jika aktif di kampus.

Beberapa kawan ikhwan yang punya peran di kampus pernah bercerita, saat masa pemilu lalu sering dideketi petinggi partai politik untuk menawarkan ini dan itu. Menggiurkan memang, hanya perlu kehati-hatian dalam menyikapi hal ini.

Sedang jika aktif konsen di dakwah sekolah hampir di pastikan tidak ada hal di atas yang akan didapat. Alumni yang masih rajin ke sekolah bisa dianggap ngga punya kerjaan di kampusnya. Atau mahasiswa kurang aktif. Atau mana ada partai politik yang mau melirik seorang mahasiswa yang sukanya berkutat di sekolah asal saja. Padahal yang dihadapi adalah anak-anak kecil yang kadang jauh dari umurnya. Kadang ada gep saat berinteraksi. Mencari popularitas dan eksistensi diri pun tidak cocok jika hanya aktif ngurus sekolah padahal sudah waktunya pindah lokasi berdakwah. Inilah beberapa hal penghambat pengelolaan Dakwah sekolah. Padahal aktifitas Dakwah sekolah amatlah penting bagi kelangsungan Dakwah secara umum.

Mengapa Dakwah sekolah??

Menurut Mas Nugroho Widiyantoro, penulis buku panduan Dakwah sekolah era baru, ada tiga alasan mengapa harus menggarap Dakwah di sekolah. Diantaranya:
1. Efektif
Sebab di sekolah adalah kumpulan anak-anak remaja/pemuda. Dan mereka masih sangat polos untuk dibentuk seperti apa pribadinya. Menanamkan aqidah dan nilai moral jauh lebih mudah dikalangan muda dibanding kalangan tua dengan asam garam kehidupan mereka. Usia muda juga masa emas dalam rangka mencari ilmu pengetahuan dan Agama. Pelaksanaan pembinaan dini jauh lebih efektif sejak remaja usia sekolah. Dan pembinaan dini sudah lebih dahulu dilakukan di negara-negara muslim lain. Kita dapat ambil contoh bagaimana pembinaan yang dilakukan kepada Bocah-bocah Palestine.

2. Masif atau Massal
Jumlah populasi pelajar di sangatlah banyak dan tersebar di seluruh negeri kita. Populasi pelajar jauh melebihi jumlah mahasiswa. Dengan jumlah yang sangat banyak ini bisa dibayangkan pentingnya mereka. Dan jika dakwah sekolah dilakukan maka jumlah perubahan ke arah moralitas yang baik akan masif pula

3. Strategis
Sebab pelajar akan banyak mensuplai orang-orang masuk kedalam dunia kampus dan kerja nantinya. Dan kita tahu output dari suplai tersebut mereka akan berada di posisi seperti birokrat, ekonom, politikus, pengusaha, artis, karyawan dsb. Sehingga jika dakwah sekolah yang masif tadi kemudian berhasil dilaknakan kehidupan yang islami dapat terwujud di segala lini. Negeri ini menjadi negara Islami secara tidak langsung lewat pribad-pribadi masyarakatnya.

Secara jangka pendek, tujuan Dakwah sekolah ialah bagaimana suasana yang islami terbentuk di sekolah-sekolah. Kita bukan sedang berencana mengislamkan pesantren, tapi yang kita bicarakan adalah mengislamkan sekolah umum yang sudah tersibghoh dengan nilai-nilai pancasila dan kenasionalismean. Dimana beragama menjadi amat aneh rasanya. Selalu harus menunjukan sikap toleransi yang kadang kebablasan. Toleransi diartikan tidak boleh menyebarkan nilai-nilai Agama tertentu yang dapat menyinggung umat lain. Atau toleransi di artikan sebagai perayaan hari besar agama bersama sebagai bukti kerukunan. Inilah cita-cita Dakwah sekolah yang jejak maksud.

Kita semua ingin, bagaimana anak-anak remaja itu selalu bersemangat dalam ibadah mereka di sekolah. Teber salam menjadi budaya. Sholat Dhuha aktivitas rutin. Pakaian islami marak bukan hanya saat Ramadhan. Dan acara-acara yang meneduhkan bagi moral mereka terlaksana. Bukan hanya di cekoki hiburan pop nan merusak. Tawuran tidak lagi ada. Penyelewengan, perbuatan asusila diminimalkan, dan tindak kejahatan dikalangan pelajar berkurang. Ini tujuan adanya Dakwah sekolah. Melakukan pembinaan dini guna menyiapkan SDM unggul kelak yang siap berkarya dimanapun mereka berada. Semoga....

Nggak Ngaji NGgak Trendy

Halah, ini kan semboyannya program [klinik] gaulislam yang kita geber saban Rabu abis shubuh di Radio KISI 93.4 FM Bogor ya? Hehe.. bener Bro, ini sengaja kita jadikan judul buletin gaulislam edisi ini. Biar mantaplah. Soalnya, kita masih sering ketemu sama temen-temen yang lebih asyik ngomongin dandanan, gaul soal film terbaru, konser musik, berbusa-busa bahas kehidupan selebriti, gitu lho. Untuk apa tujuan mereka ngobrolin semua itu? Konon kabarnya biar disebut anak gaul dan ngetren. Sementara kalo urusan ngaji mah dibilangnya kampungan dan jatahnya orang yang udah TOP alias Tua Ompong Peot. Glodak!

Bro en Sis, udah saatnya deh kita percaya diri bilang kalo ngaji adalah bagian dari tren saat ini. Saat ini emang banyak orang udah stres dengan kehidupan dunia. Stres cari duit, stres pengen terkenal, stres pengen naik jabatan, stres dengan tekanan target pekerjaan dan bentuk-bentuk tekanan jiwa lainnya, Itu sebabnya, sebenarnya orang udah mulai senang lho ngaji. Seneng kumpul-kumpul bahas persoalan agama.

Mereka banyak yang yakin kok bahwa kembali kepada ajaran agama adalah obat antistres. Insya Allah. Semoga demikian. So, itu artinya pula, sebenarnya kalo orang nggak ngaji saat ini, bisa dibilang nggak trendy dong ya? Hmm.. betul betul betul.

Oya, meski demikian, tetap aja lho ada temen kita yang masih ragu untuk ngaji. Ngerasa belum maksimal dalam niat, dan yang pasti banyak banget godaannya. Sehingga akhirnya sedikit demi sedikit mulai malas ngaji dan akhirnya bukan tak mungkin nggak ngaji sama sekali. Waduh!
Beratnya godaan

Saat masih belum ngerti tentang Islam, apalagi tentang dakwah, saya masih merasa bahwa godaan itu hanya ada pada diri orang yang lemah iman. Eh, ternyata yang sudah mulai baikan pun, godaan tetap saja ada. Di masa Rasulullah saw. ada kisahnya lho. Telah diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khathab ra. mendatangi Rasul dengan membawa naskah (sepucuk tulisan) Taurat lalu ia berkata: “Wahai Rasulullah ini adalah tulisan Taurat, lalu Rasul diam. Lalu ‘Umar membacanya, maka berubahlah raut muka Rasulullah kemudian Beliau bersabda: “Demi dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, seandainya Musa as. masih hidup lalu kalian mengikutinya dan meninggalkan aku sungguh kalian telah sesat dari jalan yang lurus, seandainya ia (Musa) masih hidup dan mengetahui kenabianku sungguh ia akan mengikuti aku.” (HR ad-Darimiy dalam as sunan no. 436)

Kenapa Rasululllah saw. marah? Ini untuk membuktikan bahwa ketika sudah masuk Islam, kita nggak boleh lagi menjadikan ajaran lain sebagai aturan. Dekat-deket aja dan mempelajari ajaran mereka tanpa ilmu yang cukup bisa nggak boleh lho. Why? Ya, karena khawatir kita tergoda. Kan banyak kasus orang yang tertipu dengan ide selain Islam. Ada yang tergoda karena harta, ia belajar Islam tapi untuk ngancurin Islam. Ada yang dikasih beasiswa untuk kuliah hingga dapat gelar master atau doktor, tapi syaratnya harus ikut rencana para donatur tersebut dalam rangka menghancurkan ajaran Islam. Lha, kalo sampe kita tergoda demi harta dan status sosial dengan cara ninggalin ajaran agama, namanya kacau, Bro. Biarlah kita banyak harta yang penting tetap beriman. Beu… kalo itu sih ideal dong namanya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga mungkin udah ngalamin ya gimana beratnya kalo godaan datang menghampiri. Lagi enak-enak puasa, ada yang nawarin makanan dan minuman. Lagi seneng-senengnya belajar, ada teman yag ngajakkin main PS. Hati dan pikiran kita semangat mengkaji ilmu Islam, eh ada orang nawarin liburan ke Ancol gratis. Termasuk ketika kita udah merasa enjoy ikut ngaji dan mencoba sedikit demi sedikit berani untuk berdakwah, nggak tahunya ada orang iseng nyebar isu kalo pengajian yang kita ikuti adalah bagian dari jaringan teroris. Waduh!

Ya, kita harus siap ketika godaan itu datang. Jadikan sebagai ujian untuk mengukur kualitas iman, takwa, dan komitmen kita. Tidak usah putus asa. Tak usah pula merasa ternistakan gara-gara memilih jalan perjuangan dakwah dan aktivis pengajian. Justru sebaliknya harus bangga. Hidup ini adalah anugerah. Nikmati sajalah.

Nih, D’Masiv mode “on” dalam lagu Jangan Menyerah:

tak ada manusia yang terlahir sempurna/ jangan kau sesali segala yang telah terjadi kita pasti pernah.dapatkan cobaan yang berat seakan hidup ini/tak ada artinya lagi syukuri apa yang ada. hidup adalah anugerah. tetap jalani hidup ini. melakukan yang terbaik
Oke deh, sebagai muslim, godaan itu memang bisa jadi ujian. Kita kaya dan miskin pun adalah ujian keimanan lho.

Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS al-Fajr [89]: 15-16)

Semoga kita tetap sabar, tahan godaan dan tetap semangat jalani kehidupan dan jalan dakwah ini.

Percaya diri jadi anak ngaji

Jadi aktivis kudu optimis. Tampang pun boleh klimis meski jenggotnya tipis. Pakaian juga necis meski dompet selalu tipis. Ya, asal jangan sering meringis sampai tampangnya kayak teletubbies. Hehehe.. nggak ding.

Kamu kudu tampil pede dengan predikat jadi aktivis masjid or kampus. Nggak boleh minder. Meski kadang cibiran, cemoohan termasuk sindiran suka mampir juga ke telinga para aktivis rohis. Dicap sok alim, sok suci, mau menang sendiri, nggak suka gaul, bahkan ‘bau surga’ lekat dengan anak rohis. Kalo yang puteri kebetulan lewat di tengah-tengah gerombolan cowok okem, suka diledekin dengan sapaan,

“Assalamu’alaikum bu haji..”

Bro en Sis, menjadi aktivis rohis atau anak ngaji adalah pilihan bukan kebetulan. Jadi kamu kudu tahu betul risikonya. Sama seperti halnya anak funky dan okem, mereka juga udah memilih apa yang diinginkannya. Dan tentunya kudu tahu juga risiko yang bakalan diterima dari pilihannya itu. Jadi, kenapa musti minder, kita di jalan yang bener sobat. Uppss.. tapi inget, teman kita yang masih jahiliyah bukan berarti musuh kita, tetep kita anggap sebagai teman. Cuma, memang masih berada di tempat gelap aja. Jadinya, kita yang kudu nuntun. Okeh?
Nah, karena kita boleh dibilang dianggap beda sama teman-teman pada umumnya, maka gerak-gerik kita selalu aja jadi sorotan. Ada yang bangga, tapi nggak sedikit yang sinis. Itu biasa, romantika hidup sobat. Nggak seru rasanya kalo hidup cuma lurus-lurus aja. Hmm.. coba deh telusuri jalan tol, wuih jenuh banget deh rasanya. Jadi, kalo pun ada cibiran dan cemoohan dari kawan-kawan kita, anggap aja bumbu dalam kehidupan ini.

Anak masjid sering diidentikan dengan penampilan yang rada-rada beda, seperti memelihara jenggot, anak putrinya pakai jilbab, ilmu agamanya lumayan oke, dan perilakunya kalem. Terjun sebagai aktivis masjid sekolahan emang gampang-gampang susah. Gimana nggak, hampir setiap gerak-gerik kita pasti dalam pantauan teman dan guru. Uniknya lagi, pandangan miring dan lurus bisa aja ditujukan sama anak masjid ini. Nah, itulah kenapa gampang-gampang susah.

Ngaji? Enjoy!

Bro en Sis, mengkaji Islam itu menyenangkan lho. Jangan dianggap ngaji itu sebagai beban, sehingga terkesan kepaksa banget. Itu cuma faktor kebiasaan. Sama seperti ketika saya belum ngaji, saya enjoy dengan kebiasaan saya buang waktu dengan nonton film di bioskop, dengerin lagu-lagu dari Bedil Karo Kembang alias Guns N Roses (yang merupakan grup band favorit saya waktu itu). Kebiasaan seperti itulah yang saya lakukan hampir di setiap waktu luang.

Bayangkan, jika kita udah enjoy dengan kebiasaan kita, rasanya flow aja menjalaninya. Ngaji nggak bakalan membosankan sama seperti orang yang sudah menjadikan aktivitas memancing sebagai kebiasaannya (hehehe.. sambil ngelirak-ngelirik temen saya nih). Mereka bisa tahan berjam-jam nungguin ikan yang masuk perangkapnya.

Nah, kalo kamu memandang bahwa ngaji itu adalah sarana mencari ilmu, mungkin bakalan sutris duluan. Kenapa? Karena kalo “judulnya” dianggap sebagai aktivitas mencari ilmu, biasanya akan tergambar dalam pikiran kamu segala hal yang berkaitan dengan sesuatu berat dan perlu banyak mikir. Sekarang saya ubah pandangannya, bahwa ngaji itu mengasyikan sebagai sarana memperkaya wawasan kita tentang kehidupan. Beda nggak seh kalimat ini dengan sebelumnya: “mencari ilmu” dan “memperkaya wawasan kita tentang kehidupan”? Kalimatnya jelas berbeda dan “rasa bahasanya” berbeda pula, meski tujuan akhirnya bisa sama. Betul?

Oke deh, dengan ngaji, kita bakalan diperkaya dengan nilai gizi yang tinggi untuk pelajaran hidup kita. Wawasan kita bakalan bertambah, karena ngaji nggak cuma belajar tsaqafah (pengetahuan yang titik tolak pembahasannya adalah akidah), tapi juga belajar tentang makna hidup, tentang ukhuwah, tentang empati, tentang harga diri, tentang peduli, tentang pengorbanan, tentang kesetiaan, dan lain sebagainya. Semua itu bisa kita dapatkan dalam pengajian.

Ngaji, nggak cuma memperkaya akal kita dengan wawasan tentang berbagai pemikiran, tapi juga menghaluskan perasaan kita tentang berbagai sikap yang membuat ruangan di hati bisa menampung banyak hal yang indah. Ngaji juga selain mengembangkan kebiasaan kita mengkaji ilmu-ilmu berat, tapi juga menumbuhkan persahabatan yang nggak kenal kata putus.

Sobat muda muslim, jadikan ngaji sebagai kebiasaan dalam hidup kita. Nikmati saja dengan penuh kesenangan. Semua itu bisa kita ciptakan bersama teman pengajian lainnya. Ada canda-tawa, ada keseriusan meski tetap santai, tegur sapa, saling mengingatkan, saling menghargai dan menghormati. Wah, indah banget kan? So, mulai sekarang kita bilang:

"nggak ngaji nggak trendy."

Sip deh!


 
Powered by Blogger